Sunday, 16 October 2016

MENGHALAU DENDAM SABAR DAN MAAF

Banyak sudah korban yang ber­jatuhan oleh karena adanya tindakan balas dendam atau yang lazim dise­but dengan dendam kesumat yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lainnya. 
Balas dendam adalah tindakan emosional tanpa memikirkan aki­bat-akibat buruk yang akan ditim­bulkan di kemudian hari. Tindakan semacam ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor yang tidak mampu dikontrol lagi secara manusiawi. Itu sebabnya banyak pula yang meng­klaim akibat perbuatan ini sebagai yang tidak manusiawi. Mengapa?
Munculnya rasa balas dendam dikarenakan oleh hawa nafsu. Itulah salah satu kelebihan manusia yang diberikan Allah kepadanya ialah adanya hawa nafsu yang tidak di­berikan kepada makhluq-Nya yang lain.
Dengan hawa nafsu seseorang bisa lebih agresif dan dinamis. Bahkan tak jarang ada orang yang melebihi kapasitas agresifitas dan kedi­namisan secara normal dari seorang manusia.
Jika hal ini sudah terjadi pada diri seseorang maka pada saat itu seo­rang manusia telah dikuasai oleh daya amarahnya, yang oleh filosof Al-Kindi disebutnya sebagai Al-Quwwah al-Gadhabiyyah.
Sifat balas dendam yang disertai dengan mengorbankan orang lain dalam ajaran Islam amat dicela dan karenanya ia dikategorikan ke da­lam perbuatan akhlaq madzmumah (perbuatan yang tidak terpuji).
Dikatakan tercela karena tindakan tersebut sudah tidak mengindahkan norma-norma kemanusiaan di mana seseorang tidak memberi kesem­patan pada orang lain untuk mau mengakui kesalahannya yang selan­jutnya membuka peluang untuk berbuat baik, serta tindakan itu seolah memaksakan kehendak seseo­rang untuk “mengakhiri” kehidupan seseorang di dunia ini.
Hal demikian telah dilukiskan oleh Allah swt bahwa “Sesungguh­nya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tan­pa hak. Mereka itu mendapat ‘az­ab ‘yang pedih” (Q.S. Al-Syura/42:42).
Selain faktor umum dan dari mana sumbernya dendam itu, kita masih dapat merinci lagi beberapa penyebabnya, yaitu: Pertama, sese­orang ingin melakukan balas den­dam karena pada masa silamnya ia pernah dihina oleh orang lain.
Perasaan ingin melakukan balas dendam itu justeru umumnya muncul pada saat orang tersebut berada pada taraf kehidupan yang layak dilihat dari segi materi dan sosial.
Kedua, seseorang ingin mem­balas dendamnya kepada orang lain manakala dirinya merasa terpojok atau dipojokkan oleh suatu situasi di mana situasi itu dipandang sebagai keadaan yang sudah “buntu”. Ketika ada sedikit cela yang terbuka, maka ia pun segera melakukan tindakan emosionalnya itu.
Ketiga, biasanya seorang penden­dam itu berpikiran sempit dengan jangkauan pemikiran yang pendek.
Dengan keterangan di atas, ma­ka pada saatnyalah kita memperta­nyakan adakah cara untuk meredam sifat balas dendam itu dan bagai­mana pula solusi yang diajarkan Islam kepada umat manusia?
Jika kita merujuk kepada sejum­lah ayat Alquan al-majid  atau hadis Rasulullah saw maka kita akan menemukan bebe­rapa jalan keluar sebagai alternatif pilihan untuk menghindari dan men­jauhi balas dendam itu.
Pertama, sabar. Ada yang mende­finisikannya sebagai sikap tabah dan tahan uji terhadap segala masalah yang akan muncul sebagai akibat lo­gis dari sikap itu. Kesabaran itu pun mempunyai batas. 
Tindakan balas dari orang yang sabar kepada orang yang pernah menyakiti hatinya tidak akan me­lampaui batas perbuatan yang menimpanya dahulu, karena ada petun­juk Allah dalam hal ini, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sa­ma dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika ka­mu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Nahl/16:126).
Kesabaran adalah perbuatan dan tindakan yang terpuji serta berkai­tan erat dengan kebenaran. Per­hatikanlah firman Allah tatkala mengingatkan para pemimpin yang harus memberi contoh bagaimana seharusnya mengamalkan kesabaran untuk menegakkan prinsip-prinsip kebenaran, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk de­ngan perintah Kami ketika mereka sabar Dan adalah mereka meyaki­ni ayat-ayat Kami” (Q.S. Al-Saj­dah/32:24).
Mengapa perlu kita ketengahkan masalah prinsip kebenaran hubun­gannya dengan sifat dan sikap sabar ini justeru karena munculnya per­buatan dendam pada orang sudah menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Begitu hebatnya hawa.nafsu telah menguasai diri seseorang.
Bagi orang yang bersabar atas segala macam musibah dan per­lakuan dalam kehidupannya ini akan memperoleh balasan dari Al­lah dengan sebuah janji yang ma­ha benar “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Al-Nahl/16:96).
Pahala itu akan dinikmatinya di hari kemudian di dalam surga yang serba lux dan penuh dengan fasilitas serta layanan yang amat menye­nangkan. Kehidupan di surga yang demikian itu dapat diketahui dari firman Allah yang tertera pada surah Al-Insan/76:12-21. Orang yang sa­bar memiliki keistimewaan tersen­diri, karena “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Anfal/8:46).
Kedua, pemaaf. Salah satu sifat yang dipuji Allah adalah sikap sese­orang untuk mau memaafkan ke­salahan orang lain (Q.S. Ali ‘Im­ran/3:134). Meski ia terpuji namun sulit untuk diterapkan. Gengsi dan beberapa macam pertimbangan sta­tus kemanusiaan merupakan ken­dala utama bagi perwujudannya. Se­kalipun Allah telah menegaskan ke­utamaan dari sifat senang memaafkan kesalahan orang lain.
Sifat memaafkan dan menyadari kesalahan (tawbat) yang telah diakui oleh orang lain adalah dua hal yang beriringan muncul dari kedua belah pihak adalah juga sifat yang dipuji Allah, karena sesungguhnya “Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan menge­tahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Syura/42:25) 
Dalam tarikh antara lain dikisahkan bahwa jika nabi Muhammad saw sedang gundah atau mungkin marah, maka raut mukanya kelihatan memerah karena sedang dan mampu menahan emosinya. Oleh karena beliau menyadari dirinya sebagai rahmat dari Allah, berperilaku sebagai manusia terpuji dan teladan bagi orang lain maka beliau memiliki cara tersendiri bagaimana meredam kemarahan dengan cara yang simpatik.
Jika keadaan beliau itu kita teorikan, maka ada lima pemeringkatan untuk meredam kemarahan yaitu: (1) sudah saatnyakah saya marah, (2) sudah betulkah saya marah, (3) apakah kemarahan saya bisa merubah orang, (4) apakah materi kemarahan saya sudah betul, dan (5) untuk apa saya marah? Ternyata, kemarahan yang muncul dari diri bisa dikontrol dan dikendalikan dengan cara mengedepankan pertimbangan akal dari pada emosi.
Kita sangat berharap bahwa ajaran agamalah yang akan menun­tun keselamatan hidup dan kehidupan kita melalui model kehidupan pembawanya. Dua di antara berbagai ajaran Islam yang perlu dan segera kita amalkan mulai saat ini ialah bagaimana agar sikap sabar dan mau memaafkan kesalahan orang lain dapat menjadi perisai diri kita untuk menghalau atau meny­ingkirkan rasa dan tindakan dendam kesumat yang tidak terpuji itu.
**MEMAAFKAN LEBIH BAIK DARI MEMENDAM DENDAM, BIARLAH ALLAH YANG MENENTUKAN/MENGHUKUMNYA BUKAN KITA YANG MANUSIA INI MEMBERI HUKUMAN SESAMA KITA KERANA YANG PUNYA KUASA ADALAH ALLAH S.W.T**

HASIL NUKILAN DARI SEORANG PROF YANG TERHEBAT 
MUHASABAH DIRI BERSAMA (KEMBALILAH KE PANGKAL JALAN)

2 Hal yang harus kita INGAT: Pertama adalah kebaikan orang lain kepada kita, dan yang kedua adalah keburukan kita kepada orang lain.
Mengapa demikian? Karena yang membahayakan diri kita bukanlah perbuatan orang lain. Demikian juga yang memberikan kebaikan diri kita bukanlah perbuatan orang lain. Yang mendatangkan kebaikan dan keburukan kepada diri kita ini adalah perbuatan kita sendiri.
Sehingga dua hal yang penting adalah mengingat kebaikan orang lain kepada kita dan mengingat keburukan kita kepada orang lain, maka kita akan senantiasa ingat untuk bertaubat dan meminta maaf kepada yang bersangkutan. Dan, kita pun termotivasi untuk terus memperbaiki sikap kepada orang lain.
Sedangkan mengingat kebaikan orang lain terhadap kita, akan membuat kita senantiasa bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang tersebut. Kita pun akan termotivasi untuk memberikan kebaikan pula terhadapnya, meskipun ia tidak pernah mengharapkannya.
Karena sesungguhnya mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan orang lain yang telah berbuat baik kepada kita, adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Allah Swt.
Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya, jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat yang Maha Tahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR.Thobroni).
Pengalaman hidup saya sendiri membuktikan bahwa hanya dalam memberi saya menerima. Artinya ketika saya memberi dengan tulus dan ikhlas, apakah itu materi, waktu, perhatian, maupun turut  mendoakan, maka saya menerima kebahagiaan yang luar biasa dan tak terukur dengan uang,  karena saya tahu bahwa balasan manusia itu terbatas dan mungkin mengecewakan. Tapi ketika Tuhan memberi, maka itu selalu dalam kelimpahan.
Dunia memang sudah mulai asing dengan ketulusan dan keikhlasan.  Dalam kepintarannya manusia melakukan berbagai hal untuk senantiasa mendapatkan keuntungan yang lebih. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh untung. Lha gimana mau hidup kalau tiap hari tekor ?.  Keuntungan yang saya maksudkan adalah keuntungan yang membawa dampak baik bagi banyak orang, dan bukan semata mata berfokus pada diri sendiri.
Mengapa kita harus iri dan takut melihat orang lain sukses atau diuntungkan ?. Rasa iri dan cemburu atas kesuksesan orang lain hanya akan menutupi jalan hidup kita sendiri, karena fokus kita ada pada kelebihan orang kain, bukannya bersyukur atas apa yang Tuhan sudah berikan bagi kita. Energi dan konsentrasi kita terbuang percuma pada kehebatan orang lain, dan kita malah lupa melangkah maju.
Dengan memberi kita menyatakan secara tidak langsung rasa terima kasih kepada Tuhan karena kita masih diberikan kesempatan berbuat baik. Hanya orang hidup yang bisa memberi bukan ?. Memberi juga adalah tindakan pernyataan iman kita kepada Tuhan bahwa kita tidak takut kekurangan. Kita percaya bahwa kebaikan Tuhan itu akan selalu mencukupi. Bagi saya, inilah Iman; mempercayai tuntunan dan kebaikan Tuhan yang tak berkesudahan  dalam hidup ini.
Memberi mungkin bukan sesuatu yang sulit, bagian tersulitnya adalah tidak mengingat ingat apa yang sudah kita berikan. Ada satu perasaan ringan dan kelegaan yang luar biasa ketika kita bisa melakukan hal ini. Artinya kita melepaskan diri dari ikatan bergantung dan menanti balasan kembali  dari si penerima.  Itu sebabnya manusia banyak hidup dalam kekecewaan karena terlalu tekun mengingat dan mengharapkan kembali apa yang sudah diberikan.
Ketika kita diberi kesempatan untuk menolong atau memberi kepada orang lain, berikanlah dengan penuh ketulusan. Tidak ada alasan bagi kita untuk menambah penuh kapasitas memori otak kita, karena sesunguhnya Tuhan tidak pernah lupa. Percayalah, alam ini selalu mengalir dalam keseimbangan. Tuhan bisa mencukupkan kita tanpa memiskinkan orang lain. Kita bisa memberi tanpa harus takut menjadi miskin.
Memberilah dengan bijaksana. Artinya kita memberi dengan tujuan yang baik dan untuk membaiki kehidupan orang yang kita tolong . Kalau kita memberi uang padahal sudah jelas jelas uangnya nanti dipakai mabuk atau berjudi, kita malah jadi ikut berpartisipasi dalam hal yang tidak baik, dan semakin menghancurkan kehidupan orang itu.
Saya tidak pernah mau memberi hutang. Saya orang akuntansi dan administrasi yang selalu harus mencatat segala sesuatunya. Ketika ada saudara atau kenalan yang datang meminta dipinjamkan uang, maka saya akan memberi sesuai dengan kemampuan saya secara ikhlas, dan tidak menganggapnya sebagai hutang. Dengan demikian saya bisa tidur lelap. Saya melepaskan diri sendiri dan orang lain dalam keikhlasan. Hutang itu merusak banyak sekali persahabatan dan mengacaukan hubungan baik. Jadi lebih baik saya tidak ikut berpartisipasi di dalamnya sebagai pemberi atau penerima.
Sisi yang lain dari memberi adalah menerima.  Banyak orang mungkin berpikir bahwa menerima itu enak. Kita berada di posisi yang diuntungkan. Justru bagi saya, menerima sesuatu dari orang lain selalu menjadi beban tersendiri, karena saya tidak bisa melupakan kebaikan orang lain dalam hidup saya.  Orang tua saya menjadi contoh yang sangat baik dalam mendidik dan mengajarkan untuk tidak pernah melupakan budi baik orang lain.
Apa jadinya dunia ini kalau semua orang hanya mau menerima tanpa membalas ?. Mungkin kita tidak diberikan kesempatan setara atau secara  langsug membalas kepada si pemberi, tapi latihlah diri kita untuk mengingat kebaikan yang sudah kita terima, dan disiplinkan diri kita untuk berbuat hal yang sama kepada orang lain ketika kita diberikan kesempatan. Hanya dengan cara itu kebaikan bisa menjadi bola salju yang bergulir tanpa henti, dan kita dapat hidup di dunia yang dapat mewartakan  indahnya kebaikan hati.
Ketika kita  memberi tanpa mengingat ingat untuk dibalas, kita dapat hidup dalam ketentraman hati yang tenang, ikhlas dan lega.  Ketika kita menerima tanpa melupakan, maka kita menjadi penerus kebaikan yang konsisten mendatangkan lebih banyak kebaikan dimana saja kita berada.
It’s a wonderful world ?… Yes it’s certainly can be, when we can give without remembering, and take without forgetting.
* SETIAP MANUSIA MELAKUKAN KESILAPAN DAN TAK MUSTAHIL JIKA MEREKA DIBERIKAN HIDAYAH UNTUK KEMBALI KE PANGKAL JALAN. KITA BUKAN TUHAN YANG BOLEH MENGHUKUM, KITA HANYALAH INSAN BIASA YANG TIDAK LEKANG DARI DOSA DAN KEBURUKAN . 
TERIMA KASIH PADA PEMBACA YANG SETIA BERSAMA, KOMEN DAN TEGURAN ANDA AMATLAH DIHARGAI BIARPUN NEGATIF, ITU PERKARA BIASA KERANA KITA MANUSIA. BAK KATA "MULUT ORANG TAK BOLEH DITUTUP, NAK TUTUP TUNGGU INNALILLAH DULU." TU MAIN REKA JE, TAK DE DALAM KAMUS DEWAN PUN. APAPUN, TERIMA KASIH PADA YANG RAJIN MEMBERI KOMEN BAIK / BURUK, ALHAMDULILLAH DAN JUTAAN TERIMA KASIH DIUCAPKAN KEPADA ANDA YANG SENTIASA "EXCITED" MEMBERI KOMEN. HEHEHE .. HASHTAGFATINPERASANRETIS. HAHA HARAP MAAF ANDAI TERSALAH DAN TERGURIS HATI . TERIMA KASIH YE SAHABAT2 BLOGGER SAYA :D

Friday, 14 October 2016

10 TIPS BINA KEYAKINAN DIRI (PALING BERKESAN)

Assalamualaikum semua para khalifah sekalian,

Hari jumaat yang paling indah cuacanya saya tertarik dengan satu blog yang tak perlulah disebutkan namanya, nanti dia malu. Tetapi, semua artikel2 dan nukilan beliau amat saya minati. Harap beliau mengikhlaskan diri beri saya peluang untuk menggunapakai semula artikel beliau.
maafkan saya, tuan. Jangan marah, nanti hilang kecomelan tuan. Hehehe.
Tapi saya tau beliau amat baik hati dan sangat disanjungi, apa salahnya meng 'sharing' ilmu dan artikel2 yang boleh menjadi panduan dan kebaikan pada masa kini, kan tuan !
Comelnye tuan ni . Haha . *bodek*
Ok, serius balik. Back to the point, without no konar konar kiri kanan. Hari ni saya nak sharing sedikit mengenai Keyakinan Diri. Cewah ! Yang menulis ni pun bukannya ada keyakinan pun,
Tu dulu ok, sejak mengamalkan tips2 dibawah ni, boleh jadi testimoni dah saya ni. Hahaha.
Tapi disini saya ingin sarankan pada semua golongan muda atau tua yang masih terpinga-pinga ingin mencari keyakinan diri yang sudah hilang dari radar tu, marilah kita sama2 menghayati dan amalkan tips2 ini, insya-Allah berkesan. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. :D

Ok, jom baca dan jawab dalam hati,

"Perlu ke aku yakin pada diri sendiri ??" "Bagaimana nak teguhkan keyakinan diri ni??"
"Takutla nak berhadapan dengan orang" "Takutlah nak bercakap dengan customer"
Tak beranila nak buat presentation depan kelas, saya takut orang tengok saya" 
Jadi macam mana ?? Pada sesiapa yang ingin berubah, anda bolehlah ikuti tips ini ye sayang :)

Ok. keyakinan diri amatlah penting dalam pembentukan peribadi seseorang insan.
Apabila seseorang itu mempunyai keyakinan diri yang tinggi, pasti dia mempunyai masa depan yang cukup cerah malah dia juga menyebabkan orang sekelilingnya terkena tempias keyakinan yang ada dalam dirinya. Namun, bagaimana untuk membina keyakinan diri sedemikian rupa??????


1. Percaya dan Yakin pada Kebolehan Diri
Setiap insan yang diciptakan Ilahi mempunyai kelebihan yang tersendiri dan kelebihan yang dimilikinya itu membuatkan dia cukup berbeza dengan orang di sekelilingnya. Hargailah dan yakinlah pada kebolehan yg ada pada diri. Jangan takut untuk menggunakan segala kelebihan yg diberikan Allah untuk kebaikan diri dan ummah kerana apabila diri melakukan sesuatu untuk Allah, seseorang itu takkan merasa sedih dan terhina apabila dikritik dan dicerca sehabisnya oleh insan-insan yg lain.

"Sesungguhnya setiap amalan itu bermula dengan niat. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu akan memperolehi apa yang ia niatkan," (Riwayat Bukhari dan Muslim)


2. Senyuman yang Menawan
Sentiasa tersenyum..
Walau dalam keadaan gembira, bahagia, dan dalam perasaan yangg tidak selesa sekalipun. Apabila bibir tersenyum, ia seseolah-olah mengarah minda untuk turut menjadi positif dan menyebabkan diri kelihatan berkeyakinan walaupun hati sebenarnya amat terketar-ketar.

Sabda Rasulullah S.A.W.
"Engkau tersenyum di depan saudaramu adalah sedekah." (Riwayat Bukhari)


3. Rentak langkah yang meyakinkan
Gaya badan menyuarakan seribu satu kata mengenai seseorang itu.
Pernahkah anda mengalami situasi di mana apabila anda menghadiri satu-satu majlis, hampir kesemua mata tertumpu pada seseorang yang hadir di majlis tersebut?
Dia tidak perlu menyuarakan apa-apa, bibirnya tersenyum dan langkahannya cukup membuatkan orang di sekelilingnya merasakan aura kehebatan dan keyakinannya.


4. Sentiasa berusaha memperbaiki kelemahan diri
Setiap insan pasti ada kelemahannya. Orang yg berkeyakinan diri yang tinggi, pasti sentiasa cuba untuk menjadi yg terbaik. Oleh itu, dia sentiasa memperbaiki dirinya dari hari ke hari dan menjadikan hari esoknya lebih baik daripada hari ini.

Sabda Rasulullah S.A.W.
"Jangan sampai kamu dipatuk oleh ular di dalam lubang yang sama dua kali," (Riwayat Abu Daud)


5. Malu itu biarlah bertempat
Benarlah malu itu perisai diri dan iman. Namun, biarlah malu itu berada di tempat yang betul. Usahlah malu untuk bertanya dan menyuarakan pendapat kerana malu bertanya akan menyebabkan sesatnya jalan. Usahlah juga malu untuk mengajak-ajak ke arah kebaikan kerana ganjaran pahala yg amat besar menanti di hadapan. Namun, malulah untuk melakukan kemungkaran dan tebalkanlah sifat malu dalam diri kepada Yang Esa untuk menayang-nayangkan segala keburukan diri kepadaNya.

‎"Dan tetaplah memberi peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang Mukmin," (Adz-Dzariyat: 55)


6. Jangan memandang rendah pada keupayaan diri
Jangan pernah sesekali memandang rendah pada kebolehan dan kekuatan diri, lantas menyuarakan "aku tidak mampu untuk melakukan itu dan ini,". 
Hakikatnya, hanya Allah yang tahu sejauh mana kemampuan seseorang itu, oleh sebab itulah Dia memberikan ujian yang berbagai-bagai, sesuai dgn kemampuan seseorang itu. Oleh itu, jangan pernah menyekat kemampuan diri dan sentiasalah mencabar diri untuk menjadi insan yang lebih baik.

"...Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan," (Ath-Thalaq:7)


7. Hargai Diri
Anda adalah unik kerana tiada satu pun di dunia ini yang mempunyai nama anda, dan mempunyai peribadi yang sama, wajah yang sama, pendidikan yang sama ataupun gaya bahasa yang sama dengan diri anda. Andalah satu-satunya insan sedemikian di bumi Allah ini. Maka, hargailah diri dan peribadi anda sebaiknya. Jangan mudah goyah dan terhanyut ke kanan dan kiri, mengikut gaya dan pendirian orang lain tanpa mengira dan mengukur buruk baik kesannya pada diri anda. Biarlah setiap tindakan dan bicara anda itu benar-benar datangnya dari diri anda, bukan disebabkan pengaruh orang lain.


8. Jangan membandingkan diri dengan orang lain
Melakukan perbandingan terhadap diri dengan orang lain adalah satu tindakan yang tidak patut dilakukan oleh seseorang. Kelebihan dalam dirimu itu takkan pernah sama dengan kelebihan yang ada dalam diri orang lain. Definisi kecantikan pada hati dan wajahmu itu takkan pernah sama dengan definisi kecantikan yang ada pada gadis yang lain. Setiap usahamu itu tidak sama kekuatannya dengan usaha yang dialirkan oleh insan lain.
Maka, usahlah melakukan perbandingan dirimu dengan insan lain. Yang penting, jadilah dirimu yang terbaik!

"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeza-beza," (Al-Lail: 4)


9. Sentiasa berfikiran positif
Orang yang berkeyakinan tinggi mempunyai pemikiran yang amat positif. Apa sahaja yang dilihatnya, dia pasti akan melihat sesuatu itu dari sudut positif dan apa sahaja yang didengarnya, dia akan menafsirnya dgn pemikiran yg positif.
Oleh sebab itulah, apabila seseorang menyatakan kepadanya bahawa dia dilihat sebagai seorang yang berjiwa besar dan mempunyai masa depan yg amat cerah, dia akan mengejar apa yang dikatakan itu kerana dia positif dan yakin bahawa dia boleh melakukannya.


10. Selalu mendengar dan membaca kata-kata motivasi
Adakalanya motivasi yang ada dalam diri kita mudah jatuh kerana ia juga ada naik surutnya.
Oleh itu, jangan biarkan diri terus hanyut apabila merasakan diri tidak berkeyakinan dan sebagainya. Bacalah buku-buku motivasi dan dengarlah kata-kata yang membangkitkan semangat dalam diri. Berbicara dengan diri sendiri juga mampu untuk menaikkan semangat.
Antaranya mungkin dengan menulis surat kepada diri sendiri di dalam diari ataupun jurnal agar semangat yg luntur kembali pulih.


Sama-samalah kita membina dan mengukuhkan lagi keyakinan diri yang ada dalam diri agar diri kita hari ini jauh lebih baik dari hari sebelumnya, insya-Allah.

Terima kasih kerana sudi baca sampai ke akhir rancangan..
Yang baik datangnya dari Allah, yang kurang datangnya dari saya sendiri..
Artikel ini tiada kena mengena dengan yang hidup ataupun sudah meninggal dunia..
Salam sayang untuk anda :D


Thursday, 13 October 2016

KEBAHAGIAAN 

Bahagia adalah sesuatu yang sukar untuk didefinisikan

Kaya tak semestinya bahagia..
Miskin tak semestinya menderita..
Berkahwin tak semestinya bahagia..
Bersendirian tak semestinya derita..
Sihat tak semestinya bahagia..
Sakit tak semestinya menderita..
Ketawa tak semestinya bahagia..
Menangis tak semestinya menderita..
Muda tak semestinya bahagia..
Tua tak semestinya derita..
Lapang tak semestinya bahagia..
Sibuk tak semestinya derita..

Berfikiran positif boleh menjadikan seseorang itu lebih matang, lebih ceria, lebih kuat iman, lebih menerima kekurangan diri sendiri atau orang lain dan lebih boleh mengingati kebaikan orang lain terhadap dirinya..

Manakala berfikiran negatif pula boleh menjadikan seseorang bertambah kusut, mhilang keceriaan dan nikmat dalam kehidupannya, juga boleh menjatuhkan aqidah jika tidak kena caranya, dan lebih membuatkan hati sendiri bertambah sakit.

Ingatlah kebaikan orang pada kita..
Tapi lupakanlah kebaikan kita pada orang lain..
Ingatlah keburukan kita terhadap orang lain..
Tapi lupakanlah keburukan orang pada kita..

Manusia bukanlah malaikat yang taat pada tuannya (Allah),
Tidak pernah melakukan kesilapan,
Manusia tidak dapat lari dari melakukan kesilapan dan bersifat pelupa seperti yang dikatakan oleh Dr. Mahathir suatu masa lalu.
Kerana manusia sentiasa dibelenggu oleh syaitan dan hawa nafsu yang tidak pernah serik ingin merosakkan aqidah dan akhlak manusia.

Bagaimanapun,
Allah memuliakan manusia lebih dari makhluk yang lain dan menjadikan manusia itu sebagai khalifah di muka bumi ini. Manusia perlu berwaspada dari godaan syaitan & hawa nafsu, Oleh itu, Allah menurunkan al-Quran untuk menjadi panduan dan pendinding hidup kepada manusia agar tidak terpesong jauh dari agamanya.

- Nukilan indah dari seorang blogger - 

- PANDAI BAHAGI UNTUK MERAIH KEBAHAGIAAN -


Untuk BAHAGIA, kita mestilah pandai BAHAGI !!!
Betul tak ???

Bahagi Masa, Tugas, Giliran, Kawan, Harta, Ilmu dan segalanya !!

Allah juga membahagikan hari kepada siang & malam, solat fardhu kepada 5 waktu, bumi & langit kepada 7 lapisan dan semua ciptaan-ciptaan Allah itu di "BAHAGI"kan dengan sempurna...

Semuanya BAHAGIA bilamana mereka mengikut apa yang Allah "BAHAGI"kan.
Hanya manusia yang selalu alpa dengan konsep BAHAGI untuk BAHAGIA ini...
Terkadang sampai terlalu taksub dan obses dalam sesuatu perkara sampai terlupa bahawa ada lagi perkara yang menunggu untuk dibahagikan...

Oleh itu, marilah kita sama2 muhasabah diri semula sebelum terlambat..
Yang baik datangnya dari Allah, dan yang kurang datangnya d
ari diri saya sendiri.. 
Moga kita berjumpa lagi !! Salam sayang untuk semua pembaca :)