Sunday, 16 October 2016

MENGHALAU DENDAM SABAR DAN MAAF

Banyak sudah korban yang ber­jatuhan oleh karena adanya tindakan balas dendam atau yang lazim dise­but dengan dendam kesumat yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lainnya. 
Balas dendam adalah tindakan emosional tanpa memikirkan aki­bat-akibat buruk yang akan ditim­bulkan di kemudian hari. Tindakan semacam ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor yang tidak mampu dikontrol lagi secara manusiawi. Itu sebabnya banyak pula yang meng­klaim akibat perbuatan ini sebagai yang tidak manusiawi. Mengapa?
Munculnya rasa balas dendam dikarenakan oleh hawa nafsu. Itulah salah satu kelebihan manusia yang diberikan Allah kepadanya ialah adanya hawa nafsu yang tidak di­berikan kepada makhluq-Nya yang lain.
Dengan hawa nafsu seseorang bisa lebih agresif dan dinamis. Bahkan tak jarang ada orang yang melebihi kapasitas agresifitas dan kedi­namisan secara normal dari seorang manusia.
Jika hal ini sudah terjadi pada diri seseorang maka pada saat itu seo­rang manusia telah dikuasai oleh daya amarahnya, yang oleh filosof Al-Kindi disebutnya sebagai Al-Quwwah al-Gadhabiyyah.
Sifat balas dendam yang disertai dengan mengorbankan orang lain dalam ajaran Islam amat dicela dan karenanya ia dikategorikan ke da­lam perbuatan akhlaq madzmumah (perbuatan yang tidak terpuji).
Dikatakan tercela karena tindakan tersebut sudah tidak mengindahkan norma-norma kemanusiaan di mana seseorang tidak memberi kesem­patan pada orang lain untuk mau mengakui kesalahannya yang selan­jutnya membuka peluang untuk berbuat baik, serta tindakan itu seolah memaksakan kehendak seseo­rang untuk “mengakhiri” kehidupan seseorang di dunia ini.
Hal demikian telah dilukiskan oleh Allah swt bahwa “Sesungguh­nya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tan­pa hak. Mereka itu mendapat ‘az­ab ‘yang pedih” (Q.S. Al-Syura/42:42).
Selain faktor umum dan dari mana sumbernya dendam itu, kita masih dapat merinci lagi beberapa penyebabnya, yaitu: Pertama, sese­orang ingin melakukan balas den­dam karena pada masa silamnya ia pernah dihina oleh orang lain.
Perasaan ingin melakukan balas dendam itu justeru umumnya muncul pada saat orang tersebut berada pada taraf kehidupan yang layak dilihat dari segi materi dan sosial.
Kedua, seseorang ingin mem­balas dendamnya kepada orang lain manakala dirinya merasa terpojok atau dipojokkan oleh suatu situasi di mana situasi itu dipandang sebagai keadaan yang sudah “buntu”. Ketika ada sedikit cela yang terbuka, maka ia pun segera melakukan tindakan emosionalnya itu.
Ketiga, biasanya seorang penden­dam itu berpikiran sempit dengan jangkauan pemikiran yang pendek.
Dengan keterangan di atas, ma­ka pada saatnyalah kita memperta­nyakan adakah cara untuk meredam sifat balas dendam itu dan bagai­mana pula solusi yang diajarkan Islam kepada umat manusia?
Jika kita merujuk kepada sejum­lah ayat Alquan al-majid  atau hadis Rasulullah saw maka kita akan menemukan bebe­rapa jalan keluar sebagai alternatif pilihan untuk menghindari dan men­jauhi balas dendam itu.
Pertama, sabar. Ada yang mende­finisikannya sebagai sikap tabah dan tahan uji terhadap segala masalah yang akan muncul sebagai akibat lo­gis dari sikap itu. Kesabaran itu pun mempunyai batas. 
Tindakan balas dari orang yang sabar kepada orang yang pernah menyakiti hatinya tidak akan me­lampaui batas perbuatan yang menimpanya dahulu, karena ada petun­juk Allah dalam hal ini, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sa­ma dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika ka­mu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Nahl/16:126).
Kesabaran adalah perbuatan dan tindakan yang terpuji serta berkai­tan erat dengan kebenaran. Per­hatikanlah firman Allah tatkala mengingatkan para pemimpin yang harus memberi contoh bagaimana seharusnya mengamalkan kesabaran untuk menegakkan prinsip-prinsip kebenaran, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk de­ngan perintah Kami ketika mereka sabar Dan adalah mereka meyaki­ni ayat-ayat Kami” (Q.S. Al-Saj­dah/32:24).
Mengapa perlu kita ketengahkan masalah prinsip kebenaran hubun­gannya dengan sifat dan sikap sabar ini justeru karena munculnya per­buatan dendam pada orang sudah menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Begitu hebatnya hawa.nafsu telah menguasai diri seseorang.
Bagi orang yang bersabar atas segala macam musibah dan per­lakuan dalam kehidupannya ini akan memperoleh balasan dari Al­lah dengan sebuah janji yang ma­ha benar “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Al-Nahl/16:96).
Pahala itu akan dinikmatinya di hari kemudian di dalam surga yang serba lux dan penuh dengan fasilitas serta layanan yang amat menye­nangkan. Kehidupan di surga yang demikian itu dapat diketahui dari firman Allah yang tertera pada surah Al-Insan/76:12-21. Orang yang sa­bar memiliki keistimewaan tersen­diri, karena “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Anfal/8:46).
Kedua, pemaaf. Salah satu sifat yang dipuji Allah adalah sikap sese­orang untuk mau memaafkan ke­salahan orang lain (Q.S. Ali ‘Im­ran/3:134). Meski ia terpuji namun sulit untuk diterapkan. Gengsi dan beberapa macam pertimbangan sta­tus kemanusiaan merupakan ken­dala utama bagi perwujudannya. Se­kalipun Allah telah menegaskan ke­utamaan dari sifat senang memaafkan kesalahan orang lain.
Sifat memaafkan dan menyadari kesalahan (tawbat) yang telah diakui oleh orang lain adalah dua hal yang beriringan muncul dari kedua belah pihak adalah juga sifat yang dipuji Allah, karena sesungguhnya “Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan menge­tahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Syura/42:25) 
Dalam tarikh antara lain dikisahkan bahwa jika nabi Muhammad saw sedang gundah atau mungkin marah, maka raut mukanya kelihatan memerah karena sedang dan mampu menahan emosinya. Oleh karena beliau menyadari dirinya sebagai rahmat dari Allah, berperilaku sebagai manusia terpuji dan teladan bagi orang lain maka beliau memiliki cara tersendiri bagaimana meredam kemarahan dengan cara yang simpatik.
Jika keadaan beliau itu kita teorikan, maka ada lima pemeringkatan untuk meredam kemarahan yaitu: (1) sudah saatnyakah saya marah, (2) sudah betulkah saya marah, (3) apakah kemarahan saya bisa merubah orang, (4) apakah materi kemarahan saya sudah betul, dan (5) untuk apa saya marah? Ternyata, kemarahan yang muncul dari diri bisa dikontrol dan dikendalikan dengan cara mengedepankan pertimbangan akal dari pada emosi.
Kita sangat berharap bahwa ajaran agamalah yang akan menun­tun keselamatan hidup dan kehidupan kita melalui model kehidupan pembawanya. Dua di antara berbagai ajaran Islam yang perlu dan segera kita amalkan mulai saat ini ialah bagaimana agar sikap sabar dan mau memaafkan kesalahan orang lain dapat menjadi perisai diri kita untuk menghalau atau meny­ingkirkan rasa dan tindakan dendam kesumat yang tidak terpuji itu.
**MEMAAFKAN LEBIH BAIK DARI MEMENDAM DENDAM, BIARLAH ALLAH YANG MENENTUKAN/MENGHUKUMNYA BUKAN KITA YANG MANUSIA INI MEMBERI HUKUMAN SESAMA KITA KERANA YANG PUNYA KUASA ADALAH ALLAH S.W.T**

HASIL NUKILAN DARI SEORANG PROF YANG TERHEBAT 

No comments:

Post a Comment